what would you do...
Monday, June 15, 2009
if you are very upset and hurt?
if your tears can't stop running down?
if you have no one to share your grief with?
what would you do?
tell me please.
posted by Hesti at 11:02 AM,
*********************************************
Morning conversation with Deo
Tuesday, May 26, 2009
Sudah beberapa minggu ini, setiap bangun pagi sebelum berdoa, saya ajak Deo (21 mos) ngobrol-ngobrol. Kira-kira seperti inilah obrolan kami:
Saya (S): Deo gimana tidurnya? Enak ga?
Deo (D): Iyah... {sambil ngucek-ngucek matanya}
S: Deo bangun gini ga cari Papa?
D: Ndak...
S: Emang Papa dimana sih?
D: Itayi... (Italy)
S: Oh gitu. Papa ke Italy naek apa?
D: Nae pecawak (naik pesawat)
S: Deo mau ikut juga?
D: Iyah...
S: Deo naik apa dong ke Italy?
D: Nae taci... (naik taxi)
S: Loh, kok taxi... Entar ga sampe2 dong kalo pake taxi. Naik pesawat aja ya?
D: Ndak, Deo... taci aja... (Deo naik taxi ajah)
S: Ya udah. Mau pake taxi apa?
D: Taci biyu... (taxi biru aka Bluebird :))
S: Loh, bukan yang merah ya?
D: Miyah... Papa, miyah... Papa (kalo merah itu mobil Papa)
Saya selalu berusaha untuk membuat Deo ingat akan Papanya. Orang-orang di rumah juga saya beritahu supaya Deo selalu diajak ngobrol tentang Papanya. Foto Papanya juga sering kami perlihatkan. Mudah-mudahan Deo bisa tetap ingat sampe tiba saatnya dia bertemu lagi dengan Papanya :)
posted by Hesti at 8:23 AM,
*********************************************
Mudik ke Kendari
Thursday, April 16, 2009
Hari ini kami sekeluarga akan mudik ke Kendari, ke kampung halaman suami saya :)
Kemudian tgl 19 Apr dari Kendari kami akan terbang ke Makassar.
Rencana kembali ke Surabaya tgl 21 malam.
Tolong didoakan supaya semuanya berjalan dengan baik dan lancar, juga supaya Deo bisa menikmati setiap penerbangan.
Terima kasih.
Hesti melaporkan dari Executive Lounge Juanda :)
Labels: traveling
posted by Hesti at 8:05 AM,
*********************************************
First Blogging Award ^_^
Monday, April 06, 2009
On of my student, Budiharja, sent me a message through Facebook.
He said that my blog just got an award from him :)
What a surprise!
And, here is the award:

The aims of this award:• As a dedication for those who love blogging activity and love to encourage friendships through blogging.
• To seek the reasons why we all love blogging!
Here are the rules of the award:
• Put the award in one post as soon as you receive it.
• Don’t forget to mention the person who gives you the award.
• Answer the award’s question by writing the reason why you love blogging.
• Tag and distribute the award to as many people as you like.
• Don’t forget to notify the award receivers and put their links in your post.
1. Blogging is just a kinda activity for relaxing, getting me out of daily routines for some time.
2. This blog is like my treasure house. I put some of my precious experiences here. And it's always good to read it the day later.
3. I love to receive comments from readers and to know what they think about my writings.
Next, I would distribute this award to these people:
1. Angela Adelia
2. Merlyna Lim
3. Pratanti
Congrats! ^_^
Labels: fun, inspiration, response
posted by Hesti at 7:46 AM,
*********************************************
Pelayan di Kantin Kampus yang Kasar dan Tidak Sopan
Tuesday, March 31, 2009
Hari ini saya tidak bawa bekal dari rumah.
Jam 12.30 perut sudah mulai lapar.
Tapi karena saya masih menyelesaikan satu pekerjaan yang lagi tanggung, jadi saya tahan laparnya.
Jam 13.00 perut makin lapar, kepala mulai pusing.
Maka saya pun turun ke bawah, ke kantin.
Rencananya saya mau bungkus makan saja untuk saya bawa ke ruangan.
Maksudnya mau makan sambil melanjutkan kerjaan.
Tiba di kantin, antrian panjang sekali.
Seperti rel kereta api.
Sebenarnya saya bisa saja ambil "jalur khusus" supaya tidak perlu berdesakan dengan mahasiswa.
Tapi saya tidak mau begitu.
Jadi saya pun ikutan antri.
Bebek saja bisa antri, masa saya ga bisa? :D
Waktu tiba giliran saya, saya bilang ke seorang ibu di kantin kalau saya mau dibungkuskan.
Si ibu cuman lewat aja sambil bilang supaya saya minta ke (pelayan) yang lain saja.
Oke, saya tunggu sampai ada pelayan yang free.
Waktu saya lihat ada mba yang lagi free, saya kembali minta dibungkuskan.
Si mba cuek saja, dia malah mengambil sendok dan melayani mahasiswa di belakang saya.
Loh, kok saya dilewatin ya.
Mulailah saya merasa "panas".
Tapi saya coba untuk menahan diri, meski perut makin perih dan kepala nyut-nyutan.
Saya panggil lagi mba-nya dan bilang kalo saya mau bungkus.
Akhirnya si mba "mudeng" juga.
Dia ambil selembar kertas coklat pembungkus makanan.
Horeee, akhirnya saya diladeni juga, begitu pikir saya.
Tapi ternyata kertas itu malah dilemparkan ke saya.
Sekali lagi: DILEMPARKAN.
Saya: Mba, saya ini mau bungkus makan...
Si mba: Iya, itu kan sudah ada kertasnya. Nasinya ada di situ (katanya sambil menunjuk ke pojok), bungkus sendiri kan bisa toh...
Saya: Ya, bisa sih. Tapi kan biasanya kalo bungkus emang dibungkusin sama mba2 di sini. Lagian, saya mau pesen ayam penyet. Kan ada di dalam, ga bisa ngambil dari sini.
(Bukannya mau sok dilayani, tapi biasanya kalo pesen makan bungkus, ya emang dibungkusin sama pelayannya. Dimana-mana juga begitu, kan?)
Si mba: Iyaaa, tu nasinya kan sudah ada, tinggal disendok aja baru dibungkus. Masa ga bisa sih?
Kemudian dia melengos pergi...
Perut lapar, kepala pusing, dapat perlakuan kasar dan ga sopan lagi.
Beberapa mahasiswa yang antri di depan dan di belakang saya melihat kejadian itu.
Kalau ga ingat sopan santun yang sudah diajarkan oleh orang tua, rasanya mau tak lempar sepatu si mba itu.
Saya tidak mengharapkan dilayani seperti raja.
Saya hanya ingin, si mba itu menjalankan tugasnya dengan baik.
Tugas dia di situ kan untuk melayani, tapi ternyata dia tidak melakukan bagiannya dengan baik.
Kalo mahasiswa ganteng aja, baru mau dia layani.
Dasar pelayan ganjen.
Maaf, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.
Saya memang benar-benar kesal sama si mba itu.
Duh, Tuhan, ampuni saya...
Labels: response
posted by Hesti at 9:53 AM,
*********************************************
Please keep praying for Deo
Tuesday, March 10, 2009
some of you might have known
last wednesday, on the 3rd of march
my 18 mos son was taken to hospital
due to high fever that made him unconscious
doctor initially diagnosed he got Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
*atau Demam Berdarah (DB)
but three days ago the diagnosis turn to be typhus
and yesterday doctor said that he probably got the meningitis symptoms
my son is still lying on the bed in hospital
every morning his blood is taken
four times a day he gets injection for some antibiotics
and his infuse has to be replaced almost in every three days
yes, his physical is ill
but the sadden thing is
he becomes traumatic each time he sees
all the uniformed nurses
and the medical stuffs
he often wakes up in the night
screaming and crying out
not for the pain
but for the fears he feels deep inside
my tears, my prayers
seem to be nothing compared to his sufferings
i tried to negotiate with GOD
if it's possible
*and i believe that nothing is impossible for Him
i would take over all my son's sufferings
children shouldn't be hurt
neither by injection nor by other medical treatment
GOD has designed children
to be our little angel
to be an apple of our eyes
to cheerful our days
they are created to be happy
i thank you all, dear friends
for the encourage messages you text me
and for the prayers you send for my son
please, keep mention AMADEO in your prayers
thank you!
posted by Hesti at 7:53 AM,
*********************************************
Bila Anak Anda Kidal (Kompas.com)
Tuesday, February 17, 2009
Bila Anda memiliki anak kidal, inilah beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan:
1. Terimalah dan bantulah anak.
Anda harus bersikap menerima dan support anak. Jangan malah merendahakna dirinya, misalnya, “Ih, apaan tuh, pakai tangan kiri, jelek!” Pnerimaan orangtua bisa membangun rasa percaya diri anak sehingga ia bisa kuat menghadapi lingkungannya. Anak akan merasa biasa-biasa saja meski dirinya berbeda dari anak lain.
2. Tidak memaksa anak menggunakan tangan kanan.
Untuk aktivitas bina diri atau aktivitas lain yang tidak terlalu terkait dengan relasi interpersonal semisal menulis, menggambar, makan, pakai baju, biarkan ia memilih menggunakan tangan kirinya yang dianggap nyaman untuk beraktivitas. Jadi, jangan Anda malah memaksanya mengganti dengan tangan kanan. Boleh saja Anda menyarankan anak untuk mencobanya, tapi buka suatu keharusan. Jika kualitas kerjanya menurun dan ia merasa tak nyaman, biarkan anak bekerja dengan tangan yang paling nyaman. Sebaliknya, jika ia bisa menunjukkan kualitas kerja yang sama baiknya, atau bahkan lebih baik, segeralah berikan pujian agar perilakunya berulang.
3. Ajarkan norma sosial yang berlaku umum di masyarakat.
Berkaitan dengan nilai dan budaya timur umumnya, anak bisa diajarkan menggunakan tangan kanannya untuk bersalaman, cium tangan, menerima sesuatu, memberikan sesuatu, dan seterusnya. Sehingga, anak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, bisa diterima secara sosial, tidak dianggap anak tak sopan, dan sebagainya. Lagipula gerakan seperti itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk diajarkan.
4. Tinggalkan stigma “tangan kiri jelek”.
Tangan kiri sama bagusnya dengan tangan kanan. Jangan pernah orangtua memarahi anak apalagi menggunakan nada tinggi karena anak menggunakan tangan kiri untuk beraktivitas. Cara seperti ini akan membuat anak merasa tertekan.Bisa-bisa anak malah mengurungkan niatnya untuk belajar menggunakan tangan kanannya dengan lebih sering.
5. Tetap latih penggunaan tangan kanannya.
Tujuannya untuk lebih menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kirinya. Melatihnya pun dalam hal-hal yang lekat dengan aktivitas anak sehari-hari seperti makan, mewarnai gambar, menggambar dan kegiatan lainnya. Bila anak melakukan aktivitas dengan tangan kirinya, mintalah ia mengulangi kegiatan yang sama dengan tangan kanannya, sambil memujinya.
6. Beri pemahaman pada lingkungan.
Seringkali lingkungan sosial di luar keluarga merupakan tantangan bagi anak. Sementara anak usia ini sosialisasinya sudah lebih luas lagi di mana ia mulai bersekolah, bermain di lingkungan sekitar rumah, dan lainnya. Nah, untuk meminimalkan dampak psikis karena dirinya yang berbeda, orangtua bisa konsultasikan pada guru di sekolah agar mereka pun memahami kondisi anak kidal, dengan tidak memaksakan atau mengatakan bahwa penggunaan tangan kirinya jelek dan buruk.
Dedeh Kurniasih
Labels: inspiration, parenting
posted by Hesti at 6:21 AM,
*********************************************

