Namanya Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna, disingkat jadi 'iscab', 26 thn, single. Bekennya dipanggil Condro. Kuliahnya di Uni-Bremen, di jurusan yang sama dengan suamiku, tapi selisih 2 angkatan.
Sudah beberapa hari ini tuh anak tiap pagi nelpon ke hp saya untuk ngebangunin kita, tepatnya ngebangunin suamiku karena memang ada janji pagi2 dengan Condro.
Tapi pagi ini, rasanya Condro gak ada janji apa2 dengan suamiku, tapi tetep nelpon tuh...
Waktu itu masih sekitar jam 9-an. Buat kami itu masih pagi banget, soalnya kami (khususnya saya) baru tidur jam 5 pagi. Dengan kepala berat, aku angkat telponnya...
Hesti (H): Hallo...
Condro (C): Hallo, Condro nih...
H: Iya tau, ada apa?
C: Mmm, pernah transfer data gak di Jerman?
H: Apa? Maksudnya?
C: Iya, transfer data. USB stick saya kena virus dari komputernya Ilham.
H: Ooo, iya tuh, kemarin2 komputer Ilham emang kena virus, makanya dia sampe format harddisk. Trus gimana dengan data2 kamu?
C: Yaa gak papa sih, untung kedeteksi sama Panda. Eh, Panda itu bagus gak sih?
H: Hmm, lumayan. Aku juga pake soalnya. Trus aku pake AVG juga.
C: Ohh AVG ya, itu bagus ya? Soalnya sama Panda virusnya sudah dinetralisir.
H: Mmm, bagus dong kalo gitu, brarti dibersihin kan? AVG malah biasanya kalo nemuin virus cuman dikerangkeng doang. Maklum, pake yang free-version sih.
C: Saya juga ada AVG. Bagus mana ya sama Panda?
H: (masih ngantuk2) Wah kalo soal antivirus mah jangan tanya saya. Tanya Indar aja, dia tuh yang jago.
C: Ooo, gitu ya...
Kemudian hening. Saya pikir sudah selesai. Tapi karena yang nelpon si Condro, gak enak dong kalo saya yang mutusin telponnya. Jadi saya tunggu beberapa saat, tapi karena gak ada juga suara, akhirnya dengan menahan kantuk saya coba ngomong...
H: Cond, udah selesai kan? Itu aja kan?
C: Iya, udah. Ehh, tunggu dulu...
H: Apaan?
C: (dengan semangat) Kemarin dengar di radio katanya tahun lalu tingkat perceraian di Jerman meningkat sampe 4000!
H: Haa?? (mataku seketika langsung melek)
Astaganaga.
Belum pernah ada orang yang membangunkan saya untuk urusan antivirus dan berita perceraian! Saking takjubnya, saya akhirnya malah jadi tertawa dan bilang ke Condro kalo saya akan menulis ini di blog saya :)
Duh tuh anak, memang unik sekali dia. Dari cara berpikir, cara ngomong, cara berpakaian, dll, keliatan kalau dia ini lain daripada yang lain. Coba lihat di sini.
Seorang classmate dia (anak India) yang kebetulan tinggal di apartment sebelah pernah nyelutuk ke suamiku kalo Condro itu salah satu calon the-best-student di jurusannya. Nilai2nya menakjubkan.
Nah karena si Condro itu tanggal lahirnya tepat sama dengan saya, 15 Juli, makanya waktu dengar berita itu, saya jadi ikutan senang. Trus mulai mikir, hmm memang anak2 yang lahir 15 Juli itu 'ditakdirkan' punya nilai2 bagus kalo sekolahnya di Jerman.
Hahaha. Apa hubungannya ya? Maksa banget yak? :))
Buat Condro, kalo kamu baca tulisan ini, TIDAK BOLEH PROTES!! :)
~ Didedikasikan untuk mereka yang belum mengenal Condro...
Tuesday, September 12, 2006
Friday, September 08, 2006
hari-hari setiap hari
Sang Pemazmur bilang, hari-hari manusia itu seperti rumput. Seperti bunga di padang ia berbunga. Apabila angin melintasinya, maka tak ada lagi ia, dan tempatnya pun tidak lagi mengenalnya...
Hari-hariku terus bergilir. Susah dan senang selalu ada. Dan dengan keterbatasanku, semua terekam dengan baik di memory. Perasaan hati senantiasa ikut menemani. Ketika susah, dia akan berduka, menangis, bahkan meraung. Tetapi ketika senang, dia akan membawaku untuk tersenyum dan tertawa.
Ahh, bagaimana mungkin angin bisa menerbangkan segala kekompleksan ini. Tidakkah itu terlalu 'berat' baginya?
Kemudian Sang Pemazmur juga bilang, kasih setia Tuhan akan tetap selama-lamanya. Atas orang-orang yang takut akan Dia. Dan keadilan bagi orang yang berpegang pada perjanjianNya, dan ingat untuk melakukan titahNya.
Semua yang ada padaku, semua yang sudah boleh terjadi, semata-mata hanya karena kasih karuniaNya saja...
Mmm, itu tadi penggalan lagu dari Mazmur 103. Pernah dengar dinyanyikan? Kalo belum, ntar kalo ketemu pasti akan saya coba nadakan dengan suara falsku :D
Hari-hariku terus bergilir. Susah dan senang selalu ada. Dan dengan keterbatasanku, semua terekam dengan baik di memory. Perasaan hati senantiasa ikut menemani. Ketika susah, dia akan berduka, menangis, bahkan meraung. Tetapi ketika senang, dia akan membawaku untuk tersenyum dan tertawa.
Ahh, bagaimana mungkin angin bisa menerbangkan segala kekompleksan ini. Tidakkah itu terlalu 'berat' baginya?
Kemudian Sang Pemazmur juga bilang, kasih setia Tuhan akan tetap selama-lamanya. Atas orang-orang yang takut akan Dia. Dan keadilan bagi orang yang berpegang pada perjanjianNya, dan ingat untuk melakukan titahNya.
Semua yang ada padaku, semua yang sudah boleh terjadi, semata-mata hanya karena kasih karuniaNya saja...
Mmm, itu tadi penggalan lagu dari Mazmur 103. Pernah dengar dinyanyikan? Kalo belum, ntar kalo ketemu pasti akan saya coba nadakan dengan suara falsku :D
Wednesday, August 02, 2006
Long-lost-friends
"A friend is a treasure"
~ Anonymous
Hidup jauh dari tanah air, membuatku seringkali terkenang akan kehidupan masa lalu, terutama ingatan akan teman2 lama... Setiap kali telpon ke rumah, hampir selalu saya menanyakan kabar teman2 masa kecil di sekitar rumah, teman2 Sekolah Minggu, dan beberapa teman2 SMP dan SMA yang kadang masih telpon ke rumah.
Terdorong oleh kenangan2 itu, membuat saya rajin googling nama teman2 di internet. Kadang2 saya search juga di Friendster, di mailing-list2 sekolah (alumni), dll. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan :)
Akhir tahun lalu saya sempat menemukan nama seorang kakak kelas yang rupanya sudah bekerja dan menetap di Houston, TX. Senang banget bisa kontak2an lagi...
Kemudian beberapa bulan yang lalu, saya berhasil menemukan teman main di SMA yang lama ngilang. Terakhir kali kirim postcard, dia sempat cerita tentang kuliahnya di Vermont dan kisah kasihnya dengan teman sekelasnya yang bernama Tracy, si mata biru yang jauh lebih tinggi dari dia (tuh, inget banget aku!). Setelah itu aku pindah kost, dan gak pernah lagi dapat kabar dari dia. Makanya berasa terharu banget bisa nemuin lagi bocah satu itu. Itupun gak sengaja nemunya. Aku coba google family-name dia, ternyata dapetnya email kakak dia. Iseng aja aku email kakaknya, ehh ternyata kebeneran email itu diforward ke adiknya. Nah, jadilah aku kontak2an lagi sama temenku ini :)
Kalo tadi ceritanya tentang bagaimana aku 'menemukan' teman2 lama, selanjutnya kisah gimana aku 'ditemukan' oleh teman2ku. Rupanya bukan hanya saya yang sering searching nama2 orang di internet. Beberapa teman saya juga punya ide yang sama. Hasilnya??
Sekitar awal tahun ini, seorang teman SMP saya tiba2 kirim email sambil marah2 kok saya menghilang dan tau2 dia baca kabar saya sudah di Jerman :)
Kemudian, ada lagi seorang teman yang menemukan saya lewat info di sebuah milist.
Dan masih ada lagi beberapa kisah menemukan dan ditemukan lewat kecanggihan teknologi internet.
Thanks to teknologi, thanks to si penemu internet. Siapa namanya? Wikipedia memberikan terlalu banyak irrelevant-clue...
~ Anonymous
Hidup jauh dari tanah air, membuatku seringkali terkenang akan kehidupan masa lalu, terutama ingatan akan teman2 lama... Setiap kali telpon ke rumah, hampir selalu saya menanyakan kabar teman2 masa kecil di sekitar rumah, teman2 Sekolah Minggu, dan beberapa teman2 SMP dan SMA yang kadang masih telpon ke rumah.
Terdorong oleh kenangan2 itu, membuat saya rajin googling nama teman2 di internet. Kadang2 saya search juga di Friendster, di mailing-list2 sekolah (alumni), dll. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan :)
Akhir tahun lalu saya sempat menemukan nama seorang kakak kelas yang rupanya sudah bekerja dan menetap di Houston, TX. Senang banget bisa kontak2an lagi...
Kemudian beberapa bulan yang lalu, saya berhasil menemukan teman main di SMA yang lama ngilang. Terakhir kali kirim postcard, dia sempat cerita tentang kuliahnya di Vermont dan kisah kasihnya dengan teman sekelasnya yang bernama Tracy, si mata biru yang jauh lebih tinggi dari dia (tuh, inget banget aku!). Setelah itu aku pindah kost, dan gak pernah lagi dapat kabar dari dia. Makanya berasa terharu banget bisa nemuin lagi bocah satu itu. Itupun gak sengaja nemunya. Aku coba google family-name dia, ternyata dapetnya email kakak dia. Iseng aja aku email kakaknya, ehh ternyata kebeneran email itu diforward ke adiknya. Nah, jadilah aku kontak2an lagi sama temenku ini :)
Kalo tadi ceritanya tentang bagaimana aku 'menemukan' teman2 lama, selanjutnya kisah gimana aku 'ditemukan' oleh teman2ku. Rupanya bukan hanya saya yang sering searching nama2 orang di internet. Beberapa teman saya juga punya ide yang sama. Hasilnya??
Sekitar awal tahun ini, seorang teman SMP saya tiba2 kirim email sambil marah2 kok saya menghilang dan tau2 dia baca kabar saya sudah di Jerman :)
Kemudian, ada lagi seorang teman yang menemukan saya lewat info di sebuah milist.
Dan masih ada lagi beberapa kisah menemukan dan ditemukan lewat kecanggihan teknologi internet.
Thanks to teknologi, thanks to si penemu internet. Siapa namanya? Wikipedia memberikan terlalu banyak irrelevant-clue...
Friday, July 21, 2006
bablas...
Kalo postingan sebelumnya agak2 serem, kali ini ceritanya rada lain.
Masih seputar kereta juga, antara Bremen-Bremerhaven.
Pagi kemarin kembali lagi saya naik kereta ke Bremerhaven, ada janji dengan teman. Buat yang tinggalnya bukan di Bremen dan sekitarnya, bisa lihat route perhentian kereta di bawah ini supaya ntar bisa ngebayangin.
Bremen -- Osterholz -- Bremerhaven -- Bremerhaven-Lehe
Perjalanan Bremen-Bremerhaven cuman sekitar 35 menit. Gak lama emang, tapi kalo sendiri ya garing juga. Untung ada Sophaholic Takes Manhattan! :D
Waktu kereta berhenti di Osterholz, saya sempat mengangkat muka melihat keluar jendela. Orang2 banyak yang naik dan turun. Membuat konsentrasi jadi pecah. Berisik soalnya. Begitu kereta jalan lagi, saya langsung tenggelam kembali dengan bukuku.
Beberapa saat kemudian, kereta berhenti lagi. Akhirnya sampai juga, pikirku. Aku biarkan orang2 turun duluan. Kemudian mataku mencari2 keluar jendela. Kebetulan di depan ada plang tertulis: Bremerhaven-Lehe. Ha!
Sejenak saya sempat bengong. Kemudian dalam sekejap langsung melompat dari kursi dan berlari keluar kereta. Setengah gak percaya, saya pandangi lagi plang itu. Kok bisa saya tau2 sudah sampe di sini. Perasaan tadi gak ada stop lagi setelah dari Osterholz.
Tapi bukan Hesti namanya kalo gak akal panjang, hehehe. Bremerhaven-Lehe ini adalah perhentian terakhir, jadi kereta ini pasti akan balik lagi ke Bremen dan pasti juga akan melewati Bremerhaven lagi. Ya toh? :)
Supaya lebih yakin, aku cari petugas kereta. Pas ketemu aku tanya dan dia jawab: ya, tentu.
Dengan PD aku masuk dan duduk kembali ditempatku semula. Lanjut lagi baca bukunya...
Tapi dari belakang saya ngerasa kalo petugas itu ikut masuk juga dan mengikuti saya. Begitu dia sampai di sebelah kursi saya, dia bilang: ehm, kereta ini memang akan balik ke Bremen, tapi masih satu jam lagi. Astaga.
Aku lihat jam, 15 menit lagi jam 11. Sementara saya janjiannya jam 11 tepat. Waduh gimana ini...
Melihat tampangku yang bingung, petugas itu kemudian menyarankan supaya aku jalan keluar stasiun saja karena di depan ada banyak bus yang langsung ke Bremerhaven. Cuman 19 menit pula.
Sukur akhirnya aku bisa selamat juga sampai tujuan, meski agak2 telat :)
Duh, baca Sophaholic itu ternyata bisa bikin heboh juga. Once you start read it, you won't be able to make a pause even for a minute. Cobain deh.
Masih seputar kereta juga, antara Bremen-Bremerhaven.
Pagi kemarin kembali lagi saya naik kereta ke Bremerhaven, ada janji dengan teman. Buat yang tinggalnya bukan di Bremen dan sekitarnya, bisa lihat route perhentian kereta di bawah ini supaya ntar bisa ngebayangin.
Bremen -- Osterholz -- Bremerhaven -- Bremerhaven-Lehe
Perjalanan Bremen-Bremerhaven cuman sekitar 35 menit. Gak lama emang, tapi kalo sendiri ya garing juga. Untung ada Sophaholic Takes Manhattan! :D
Waktu kereta berhenti di Osterholz, saya sempat mengangkat muka melihat keluar jendela. Orang2 banyak yang naik dan turun. Membuat konsentrasi jadi pecah. Berisik soalnya. Begitu kereta jalan lagi, saya langsung tenggelam kembali dengan bukuku.
Beberapa saat kemudian, kereta berhenti lagi. Akhirnya sampai juga, pikirku. Aku biarkan orang2 turun duluan. Kemudian mataku mencari2 keluar jendela. Kebetulan di depan ada plang tertulis: Bremerhaven-Lehe. Ha!
Sejenak saya sempat bengong. Kemudian dalam sekejap langsung melompat dari kursi dan berlari keluar kereta. Setengah gak percaya, saya pandangi lagi plang itu. Kok bisa saya tau2 sudah sampe di sini. Perasaan tadi gak ada stop lagi setelah dari Osterholz.
Tapi bukan Hesti namanya kalo gak akal panjang, hehehe. Bremerhaven-Lehe ini adalah perhentian terakhir, jadi kereta ini pasti akan balik lagi ke Bremen dan pasti juga akan melewati Bremerhaven lagi. Ya toh? :)
Supaya lebih yakin, aku cari petugas kereta. Pas ketemu aku tanya dan dia jawab: ya, tentu.
Dengan PD aku masuk dan duduk kembali ditempatku semula. Lanjut lagi baca bukunya...
Tapi dari belakang saya ngerasa kalo petugas itu ikut masuk juga dan mengikuti saya. Begitu dia sampai di sebelah kursi saya, dia bilang: ehm, kereta ini memang akan balik ke Bremen, tapi masih satu jam lagi. Astaga.
Aku lihat jam, 15 menit lagi jam 11. Sementara saya janjiannya jam 11 tepat. Waduh gimana ini...
Melihat tampangku yang bingung, petugas itu kemudian menyarankan supaya aku jalan keluar stasiun saja karena di depan ada banyak bus yang langsung ke Bremerhaven. Cuman 19 menit pula.
Sukur akhirnya aku bisa selamat juga sampai tujuan, meski agak2 telat :)
Duh, baca Sophaholic itu ternyata bisa bikin heboh juga. Once you start read it, you won't be able to make a pause even for a minute. Cobain deh.
Tuesday, July 18, 2006
Hilfe... Polizei...
Pagi tadi ada kejadian menarik ketika saya naik kereta tujuan Bremerhaven.
Seperti biasa kalo naik kereta, saya memang selalu cari gerbong yang agak kosong supaya bisa tenang kalo baca buku atau... tidur! :D
Dan tadi pagi itu saya naik ke gerbong yang cukup sepi, hanya ada 2 orang ibu selain saya. Asik nih pikir saya, kemudian saya mulai ngeluarin Sophaholic Takes Manhattan yang lagi seru2nya saya baca.
Beberapa saat sebelum kereta jalan, tiba2 naik seorang anak muda. Sekilas terlihat penampilannya rapi dan perlente, pake kacamata dengan rambut model Hugh Grant gitu.
Saya tadinya tidak memperhatikan dia lebih detil lagi, sampe ketika dia jalan menuju ke tempat duduk saya dan tiba2 menjatuhkan diri duduk di sebelah saya. Kaget tapi saya tetap pura2 cuek baca buku.
Kemudian dia tanya saya, "Wo farht diese Zug?" (kemana tujuan kereta ini?).
Dari bau mulutnya saya langsung mencium bau tajam bir. Wah lagi mabok rupanya. Trus sekilas saya lihat ditangannya ada 2 kaleng bir Becks. Gawat, pikirku...
Dengan mata tetap menatap ke buku, saya jawab dia seasalnya saja, "...nach Bremerhaven" (ke Bremerhaven). Harapan saya, setelah ini dia akan diam.
Tapi ternyata dia malah ngoceh gak karuan. Saya sampe bingung dia ini ngomong apa...
Trus tiba2 dia mencoba memegang tangan saya. Karena kaget, saya refleks menepis tangan dia. Kemudian saya pindah duduk ke kursi seberang. Ehh, dia malah ikut berdiri dan mencoba memegang tangan saya lagi, akhirnya saya bentak dia, "Nein!"
Salah satu ibu yang duduk di gerbong itu bilang ke saya, "Kommst Du zu mir" (ayo kamu ke tempat saya saja). Tergesa2 saya berdiri dan pindah duduk ke sebelah ibu itu. Ternyata cowo itu juga ikut berdiri dan ngikut saya ke tempat ibu itu. Dan kali dia mencoba untuk memeluk saya. Tapi si ibu yang baik itu langsung memegang kedua tangan cowo itu, menahan supaya dia gak nyentuh saya. Saya masih ingat ibu itu mencoba menenangkan cowo itu, kira2 dia bilang begini: "Ini masih pagi, kamu kok malah mabuk? Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah..."
Cowo itu malah jadi marah, dia tarik tangannya dan mulai mencekik leher ibu itu.
Melihat kejadian ini saya langsung panik, berdiri, dan mulai teriak2 di gerbong, "Hilfe, hilfe... Polizei, hilfe..." (tolong, tolong... Polisi, tolong...).
Selama beberapa saat, si ibu masih tetap tenang meski wajahnya mulai memerah dicekik oleh cowo itu. Dan saya mulai menangis... trus mulai komat-kamit berdoa dalam hati...
Entah kenapa, tiba2 cowo itu melepaskan cekikannya, kemudian dia memandang ke saya.
Saya udah siap2, kalo dia mau menyerang saya, mau saya dorong dia sekuat tenaga.
Tapi ternyata dia cuman mengangkat telunjuknya ke arah saya dan bilang, "Du, scheiße!" (f*** you!).
Setelah itu dia pergi, pindah ke gerbong sebelah. Lega rasanya. Berulang kali saya mengucapkan terima kasih ke ibu tadi sambil menanyakan keadaan dia. Saya kuatir sekali sama dia, tapi dengan semangatnya ibu itu malah cerita kalo anak2 muda jaman sekarang ini memang makin gak beres, kerjanya cuman party dan mabuk2an. Kayaknya kejadian tadi malah sama sekali gak bikin dia shock.
Beberapa saat kemudian, dua orang petugas keamanan masuk ke gerbong sebelah. Dari balik kaca pembatas saya melihat mereka berbicara dengan cowo tadi. Sepertinya meminta cowo itu untuk turun karena kereta sudah mau jalan (sudah telat 15 menit soalnya). Cowo itu kelihatan ngotot dan tidak mau turun. Kemudian datang lagi 2 petugas keamanan lainnya, kali ini yang badannya jauh lebih gede dari yang sebelumnya :)
Oleh 2 petugas ini, kemudian cowo itu ditarik keluar dari kereta. Di luar kereta, saya melihat cowo ini berusaha melepaskan diri. Kelihatannya dia mencoba bicara baik2 dengan 4 petugas ini. Akhirnya dia dilepaskan. Tapi tiba2 salah satu tangannya mencoba memukul wajah seorang petugas dengan kaleng birnya. Untung petugas lainnya bisa bergerak lebih cepat sehingga kaleng bir itu terlempar ke arah lain. Dan bagaikan melihat adegan silatnya Jet Lee, petugas ini mengangkat tubuh cowo ini, kemudian membantingnya ke lantai. Cowo ini teriak kesakitan. Petugas keamanan itu kemudian duduk di atas tubuh cowo ini, sementara teman2nya tampak sibuk menelpon, sepertinya meminta bala bantuan lain.
Kejadian ini belangsung cepat sekali, saya serasa sempat berhenti bernapas melihatnya. Dan sampai kereta jalanpun, situasinya masih tetap sama, cowo itu masih terbaring tak berkutik di lantai dan di atasnya duduk seorang petugas.
Di Jerman ini sering sekali saya bertemu dengan orang2 mabuk, tapi belum pernah saya melihat yang seagresif ini. Setahu saya, orang mabuk di sini kontrol dirinya cukup bagus, mereka ngoceh gak karuan tapi tidak sampai menyerang fisik orang lain. Sepertinya meski mereka mabuk tapi alam bawah sadarnya masih bisa mengingat kalo mereka sampai melukai orang lain, mereka akan kena denda (kalo gak salah sekitar 5.000 Euro -- CMIIW).
Lama setelah kereta jalan, saya baru mikir... halahh, tadi kenapa gak bawa kamera ya? Kan lumayan bisa bikin jurnalistik foto. Dasar tukang poto! :D
Seperti biasa kalo naik kereta, saya memang selalu cari gerbong yang agak kosong supaya bisa tenang kalo baca buku atau... tidur! :D
Dan tadi pagi itu saya naik ke gerbong yang cukup sepi, hanya ada 2 orang ibu selain saya. Asik nih pikir saya, kemudian saya mulai ngeluarin Sophaholic Takes Manhattan yang lagi seru2nya saya baca.
Beberapa saat sebelum kereta jalan, tiba2 naik seorang anak muda. Sekilas terlihat penampilannya rapi dan perlente, pake kacamata dengan rambut model Hugh Grant gitu.
Saya tadinya tidak memperhatikan dia lebih detil lagi, sampe ketika dia jalan menuju ke tempat duduk saya dan tiba2 menjatuhkan diri duduk di sebelah saya. Kaget tapi saya tetap pura2 cuek baca buku.
Kemudian dia tanya saya, "Wo farht diese Zug?" (kemana tujuan kereta ini?).
Dari bau mulutnya saya langsung mencium bau tajam bir. Wah lagi mabok rupanya. Trus sekilas saya lihat ditangannya ada 2 kaleng bir Becks. Gawat, pikirku...
Dengan mata tetap menatap ke buku, saya jawab dia seasalnya saja, "...nach Bremerhaven" (ke Bremerhaven). Harapan saya, setelah ini dia akan diam.
Tapi ternyata dia malah ngoceh gak karuan. Saya sampe bingung dia ini ngomong apa...
Trus tiba2 dia mencoba memegang tangan saya. Karena kaget, saya refleks menepis tangan dia. Kemudian saya pindah duduk ke kursi seberang. Ehh, dia malah ikut berdiri dan mencoba memegang tangan saya lagi, akhirnya saya bentak dia, "Nein!"
Salah satu ibu yang duduk di gerbong itu bilang ke saya, "Kommst Du zu mir" (ayo kamu ke tempat saya saja). Tergesa2 saya berdiri dan pindah duduk ke sebelah ibu itu. Ternyata cowo itu juga ikut berdiri dan ngikut saya ke tempat ibu itu. Dan kali dia mencoba untuk memeluk saya. Tapi si ibu yang baik itu langsung memegang kedua tangan cowo itu, menahan supaya dia gak nyentuh saya. Saya masih ingat ibu itu mencoba menenangkan cowo itu, kira2 dia bilang begini: "Ini masih pagi, kamu kok malah mabuk? Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah..."
Cowo itu malah jadi marah, dia tarik tangannya dan mulai mencekik leher ibu itu.
Melihat kejadian ini saya langsung panik, berdiri, dan mulai teriak2 di gerbong, "Hilfe, hilfe... Polizei, hilfe..." (tolong, tolong... Polisi, tolong...).
Selama beberapa saat, si ibu masih tetap tenang meski wajahnya mulai memerah dicekik oleh cowo itu. Dan saya mulai menangis... trus mulai komat-kamit berdoa dalam hati...
Entah kenapa, tiba2 cowo itu melepaskan cekikannya, kemudian dia memandang ke saya.
Saya udah siap2, kalo dia mau menyerang saya, mau saya dorong dia sekuat tenaga.
Tapi ternyata dia cuman mengangkat telunjuknya ke arah saya dan bilang, "Du, scheiße!" (f*** you!).
Setelah itu dia pergi, pindah ke gerbong sebelah. Lega rasanya. Berulang kali saya mengucapkan terima kasih ke ibu tadi sambil menanyakan keadaan dia. Saya kuatir sekali sama dia, tapi dengan semangatnya ibu itu malah cerita kalo anak2 muda jaman sekarang ini memang makin gak beres, kerjanya cuman party dan mabuk2an. Kayaknya kejadian tadi malah sama sekali gak bikin dia shock.
Beberapa saat kemudian, dua orang petugas keamanan masuk ke gerbong sebelah. Dari balik kaca pembatas saya melihat mereka berbicara dengan cowo tadi. Sepertinya meminta cowo itu untuk turun karena kereta sudah mau jalan (sudah telat 15 menit soalnya). Cowo itu kelihatan ngotot dan tidak mau turun. Kemudian datang lagi 2 petugas keamanan lainnya, kali ini yang badannya jauh lebih gede dari yang sebelumnya :)
Oleh 2 petugas ini, kemudian cowo itu ditarik keluar dari kereta. Di luar kereta, saya melihat cowo ini berusaha melepaskan diri. Kelihatannya dia mencoba bicara baik2 dengan 4 petugas ini. Akhirnya dia dilepaskan. Tapi tiba2 salah satu tangannya mencoba memukul wajah seorang petugas dengan kaleng birnya. Untung petugas lainnya bisa bergerak lebih cepat sehingga kaleng bir itu terlempar ke arah lain. Dan bagaikan melihat adegan silatnya Jet Lee, petugas ini mengangkat tubuh cowo ini, kemudian membantingnya ke lantai. Cowo ini teriak kesakitan. Petugas keamanan itu kemudian duduk di atas tubuh cowo ini, sementara teman2nya tampak sibuk menelpon, sepertinya meminta bala bantuan lain.
Kejadian ini belangsung cepat sekali, saya serasa sempat berhenti bernapas melihatnya. Dan sampai kereta jalanpun, situasinya masih tetap sama, cowo itu masih terbaring tak berkutik di lantai dan di atasnya duduk seorang petugas.
Di Jerman ini sering sekali saya bertemu dengan orang2 mabuk, tapi belum pernah saya melihat yang seagresif ini. Setahu saya, orang mabuk di sini kontrol dirinya cukup bagus, mereka ngoceh gak karuan tapi tidak sampai menyerang fisik orang lain. Sepertinya meski mereka mabuk tapi alam bawah sadarnya masih bisa mengingat kalo mereka sampai melukai orang lain, mereka akan kena denda (kalo gak salah sekitar 5.000 Euro -- CMIIW).
Lama setelah kereta jalan, saya baru mikir... halahh, tadi kenapa gak bawa kamera ya? Kan lumayan bisa bikin jurnalistik foto. Dasar tukang poto! :D
Saturday, July 15, 2006
30
This is the day that the Lord has made...
I will rejoice and be glad of Him.
~ Don Moen
Again, another year has passed. Everytime I remember of the past years, I'm always wonderfully amazed at God. In good and bad times, He never leave me alone. The way He works and helps me has been a trully answer to experience my life within His plan and purpose. And I've learned that as I stay true to Him, He will accomplish it.
Today is my 30th birthday. I considered this as a great number :) Thus some weeks ago I've planned to celebrate my birthday with some close friends. But then by some unplanned events, I thought better to cancel the celebration...
Still I really enjoyed this great day. Going out and had a lunch in Chinese restaurant with my husband, taking some pictures in this sunny day, shopping, staring at the people who passed by in front of us while enjoying the ice-cream, and cooking for dinner when we back home.
Other things that definitely make this day so beautiful are lovely greetings from family and friends.
Since I don't have enough energy to reply all of them, now let me take this moment to declare my appreciation to all my friends.
Thousands of thanks for those who have gave me a call, sent me an sms, left offline message on YM, sent me either an email or e-card, and gave me testimonial on friendster...
Ghalib, Trio, Lala, Tante Lily, iHOET, Mbak Maria (Rome), Mbak Mer (LA), Condro, Bang Ivan-Mbak Santi, Mbak Dian, Viona, Helen, Lars-Marlen, Yanti, Shierly, Feldrica, Sonya, Iqbal (FN), Indar, Harmoko (Pittsburgh?), Mas Yadi-Mbak Mia, Mbak Dina, Messalina, Nugroho (FN), Rhemanatha, Namrata (Punee), Sebastian-Delpi, Tante Martha, Reyne, temen2 PPI-Bremen,...
Who else? Ugghh, apologies if I forgot mention your name here...
Later I want to end this day by giving another thanks to God on bended knee.
I will rejoice and be glad of Him.
~ Don Moen
Again, another year has passed. Everytime I remember of the past years, I'm always wonderfully amazed at God. In good and bad times, He never leave me alone. The way He works and helps me has been a trully answer to experience my life within His plan and purpose. And I've learned that as I stay true to Him, He will accomplish it.
Today is my 30th birthday. I considered this as a great number :) Thus some weeks ago I've planned to celebrate my birthday with some close friends. But then by some unplanned events, I thought better to cancel the celebration...
Still I really enjoyed this great day. Going out and had a lunch in Chinese restaurant with my husband, taking some pictures in this sunny day, shopping, staring at the people who passed by in front of us while enjoying the ice-cream, and cooking for dinner when we back home.
Other things that definitely make this day so beautiful are lovely greetings from family and friends.
Since I don't have enough energy to reply all of them, now let me take this moment to declare my appreciation to all my friends.
Thousands of thanks for those who have gave me a call, sent me an sms, left offline message on YM, sent me either an email or e-card, and gave me testimonial on friendster...
Ghalib, Trio, Lala, Tante Lily, iHOET, Mbak Maria (Rome), Mbak Mer (LA), Condro, Bang Ivan-Mbak Santi, Mbak Dian, Viona, Helen, Lars-Marlen, Yanti, Shierly, Feldrica, Sonya, Iqbal (FN), Indar, Harmoko (Pittsburgh?), Mas Yadi-Mbak Mia, Mbak Dina, Messalina, Nugroho (FN), Rhemanatha, Namrata (Punee), Sebastian-Delpi, Tante Martha, Reyne, temen2 PPI-Bremen,...
Who else? Ugghh, apologies if I forgot mention your name here...
Later I want to end this day by giving another thanks to God on bended knee.
Tuesday, July 04, 2006
Panas!
Cuman mau bilang kalo hari ini di Bremen panasnya minta ampun...
Siang tadi suhu sampe 35 derajat! Dan udah tengah malam gini suhu masih tetep aja panas, 24 derajat!
Kalau di Surabaya hampir tiap rumah pake AC, di sini mah bisa dihitung jari berapa rumah atau apartment yang pake AC, ada juga wajibnya punya pemanas ruangan :D
Duh, jadi pengen mandi mulu nih...
Siang tadi suhu sampe 35 derajat! Dan udah tengah malam gini suhu masih tetep aja panas, 24 derajat!
Kalau di Surabaya hampir tiap rumah pake AC, di sini mah bisa dihitung jari berapa rumah atau apartment yang pake AC, ada juga wajibnya punya pemanas ruangan :D
Duh, jadi pengen mandi mulu nih...
Subscribe to:
Posts (Atom)